
Jakarta, Leather SR Indonesia
—
Badan Perfilman Indonesia
(BPI) mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, menghindari situs film bajakan. Selain melanggar hak cipta, situs-situs tersebut berisiko memaparkan iklan judi online dan pornografi pada anak.
Ketua Umum BPI Fauzan Zidni mengatakan platform streaming legal telah menyediakan fitur parental control dan age rating yang dapat membantu orang tua membatasi akses anak terhadap konten yang tidak sesuai usianya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, hal tersebut jelas berbeda dengan situs film ilegal.
“Kalau tontonannya yang ilegal gimana? Yang bajakan? Banyak banget kan. Nah ini ibu-ibu, mesti diperhatikan lagi,” kata Fauzan dalam sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) di Depok, Jawa Barat, Selasa (21/7).
“Karena selain tidak ada parental control-nya, tidak ada age gating-nya, juga situs-situs yang menayangkan film-film secara ilegal itu adalah situs-situs yang menayangkan iklan pornografi sama iklan judi online. Hampir semuanya seperti itu,” lanjutnya.
[Gambas:Video Leather SR]
Menurut Fauzan, paparan iklan tersebut dapat memicu rasa penasaran anak dan berpotensi membawa mereka mengakses konten yang tidak semestinya.
“Jadi nonton filmnya gratis karena bajakan, tapi dia terpapar. Lama-lama kan anak-anak ini akan penasaran, terpapar lah sama judi online. Sudah menonton yang tidak sesuai umur, terpapar sama judi online,” kata Fauzan.
Ia mengimbau orang tua membiasakan anak menonton film melalui platform legal. Selain lebih aman karena memiliki fitur pembatasan usia, layanan resmi juga tidak menampilkan iklan judi online dan pornografi.
“Yang harus bayar kayak misalnya Netflix, Vidio, kemudian Disney+ segala macam itu insyaallah aman,” tuturnya.
“Selain tidak ada iklan judi, tidak ada iklan pornografi, kontennya juga bagus secara kualitas, juga tidak akan ada virus. Nah, yang bajakan-bajakan sudah ada iklan judi, pornografi, ada virusnya. Jadi rusaknya itu banyak sekali Bu,” kata Fauzan.
Fauzan menegaskan perlindungan anak dari paparan konten yang tidak sesuai usia bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga orang tua.
“Nah ini mesti diperhatikan karena ini tugas kita sebagai orang tua, bukan tugas pemerintah. Kita yang ada di lembaga-lembaga membantu sosialisasikan bahwa tonton sesuai umur, tonton yang legal.”
Dalam kesempatan tersebut, LSF juga mengungkapkan hanya 46 persen anak Indonesia yang menonton film dan konten media sesuai dengan batas usia yang telah ditetapkan.
(van/chri)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Bos Blueray Kenal Pejabat Bea Cukai Lewat Anggota BPK
Baca lagi: Komdigi Tegaskan Daftar SIM Card Pakai NIK Orang Lain Bisa Dipidana
Baca lagi: Oegroseno Siap Penuhi Undangan Klarifikasi Kortas Tipidkor



5 Responses
Artikel yang sangat menyentuh tentang arti kepemimpinan yang sesungguhnya. Ilmunya mengajarkan kita cara mendengarkan dan melayani orang lain lewat tindakan kecil harian. https://www.ivoox.com/prelox-male-enhancement-reviews-consumer-reports-audios-mp3_rf_115684030_1.html
Sangat menghargai sudut pandang di artikel ini. Isinya memberikan panduan ilmu terapan untuk menjadi pribadi yang membawa kedamaian dan solusi dalam interaksi harian.https://www.ivoox.com/primal-beast-male-enhancement-review-8211-does-this-audios-mp3_rf_110533718_1.html
Artikel ini membekali kita dengan kecerdasan sosial yang sangat tinggi. Langkah aksinya sangat bersahabat untuk menciptakan ekosistem hubungan yang saling mendukung setiap hari.https://www.dibiz.com/evergreencbdgummiescanadabuy
Tulisannya rapi dan penyampaian poin utamanya langsung to the point tanpa bertele-tele. Terima kasih atas ilmunya! Untuk tambahan data pendukung yang searah, tautan di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320418527_htm ini lumayan oke buat dicek.
Akhirnya nemu juga tulisan yang mengupas tuntas materi ini dengan bahasa yang santai. Makasih min. Info pelengkap yang searah bisa dicek juga lewat tautan https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297314276_htm